FUNGSI ETIKA BISNIS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 FUNGSI ETIKA BISNIS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN




A.    Pengertian Etika

            Etika (Yunani Kuno: “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”) adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Kata etika berasal dari bahasa Yunani,ethos atau taetha yang berarti tempat tinggal, padang rumput, kebiasaan atauadat istiadat. Oleh filsuf Yunani, Aristoteles, etika digunakan untuk menunjukkan filsafat moral yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dannorma moral, perintah, tindakan kebajikan dan suara hati. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Pada pengertian yang paling dasar, etika adalah sistem nilai pribadiyang digunakan memutuskan apa yang benar, atau apa yang paling tepat,dalam suatu situasi tertentu; memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang ada dalam organisasi dan diri pribadi. Etika juga diartikan pula sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan studi tentang tindakan-tindakan baik ataupun buruk manusia di dalam mencapai kebahagiaannya. Apa yang dibicarakan di dalam etika adalah tindakan manusia, yaitu tentang kualitas baik (yang seyogyanya dilakukan) atau buruk (yang seyogyanya dihindari)atau nilai-nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentangkearifannya dalam bertindak.

Menurut Mathis dan Jackson, etika memiliki dimensi-dimensi konsekuensi luas, alternatif ganda, akibat berbeda, konsekuensi tak pasti, dan efek personal.

a)      Konsekuensi Luas : keputusan etika membawa konsekuensi yang luas. Misalnya, karena menyangkut masalah etika bisnis tentang pencemaran lingkungan maka diputuskan penutupan perusahaan dan pindah ke tempat lain yang jauh dari karyawan. Hal itu akan berpengaruh terhadap kehidupan karyawan, keluarganya, masyarakat dan bisnis lainnya.

b)      Alternatif Ganda : beragam alternatif sering terjadi pada situasi pengambilan keputusan dengan jalur di luar aturan. Sebagai contoh, memutuskan seberapa jauh keluwesan dalam melayani karyawan tertentu dalam hal persoalan keluarga sementara terhadap karyawan yang lain menggunakan aturan yang ada.

c)      Akibat Berbeda : keputusan-keputusan dengan dimensi-dimensi etika bisa menghasilkan akibat yang berbeda yaitu positif dan negatif. Misalnya mempertahankan pekerjaan beberapa karyawan di suatu pabrik dalam waktu relatif lama mungkin akan mengurangi peluang para karyawan lainnya untuk bekerja di pabrik itu. Di satu sisi keputusan itu menguntungkan perusahaan tetapi pihak karyawan dirugikan

d)      Ketidakpastian Konsekuensi : konsekuensi keputusan-keputusan bernuansa etika sering tidak diketahui secara tepat. Misalnya pertimbangan penundaan promosi pada karyawan tertentu yang hanya berdasarkan pada gaya hidup dan kondisi keluarganya padahal karyawan tersebut benar-benar kualifaid.

e)      Efek Personal : keputusan-keputusan etika sering mempengaruhi kehidupan karyawan dan keluarganya, misalnya pemecatan terhadap karyawan disamping membuat sedih si karyawan juga akan membuat susah keluarganya. Misal lainnya, kalau para pelanggan asing tidak menginginkan dilayani oleh “sales” wanita maka akan berpengaruh negatif pada masa depan karir para “sales” tersebut.


A.    Etika Pengambilan Keputusan

        Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan padadilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpinmempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga,keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya.Maka, ada baiknya sebelum Anda mengambil keputusa mengacu pada prinsip- prinsip berikut ini:

1.    Autonomy

Isu ini berkaitan dengan apakah keputusan anda melakukan eksploitasi terhadap orang lain dan mempengaruhi kebebasan mereka?Setiap keputusan yang anda ambil tentunya akan mempengaruhi banyak orang. Oleh karena itu, anda perlu mempertimbangkan faktor ini ke dalam setiap proses pengambilan keputusan anda. Misalnya keputusan untuk merekrut pekerja dengan biaya murah. Seringkali perusahaan mengeksploitasi buruh dengan biaya semurah mungkin padahal sesungguhnya upah tersebut tidak layak untuk hidup.

2.    Non-malfeasance

Apakah keputusan Anda akan mencederai pihak lain? Di kepemerintahan, nyaris setiap peraturan tentunya akan menguntungkan bagi satu pihak sementara itu mencederai bagi pihak lain. Begitu pulahalnya dengan keputusan bisnis pada umumnya, dimana tentunya menguntungkan bagi beberapa pihak namun tidak bagi pihak lain.Misalnya kasus yang belakangan menghangat yaitu pemerintah dengan UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang baru  disahkan dan ditentang oleh banyak pihak. Salah satunya implikasi dari UU tersebut adalah pemblokiran situs porno. Meskipun usaha pemerintah baik, namun banyak pihak yang menentangnya.

3.    Beneficence

Apakah keputusan yang Anda ambil benar-benar membawamanfaat? Manfaat yang Anda ambil melalui keputusan harus dapat menjadi solusi bagi masalah dan merupakan solusi terbaik yang bisa diambil.

4.    Justice

Proses pengambilan keputusan mempertimbangkan faktor keadilan,dan termasuk implementasinya. Di dunia ini memang sulit untuk menciptakan keadilan yang sempurnam namun tentunya kita selalu berusaha untuk menciptakan keadilan yang ideal dimana memperlakukan tiap orang dengan sejajar. Misalnya dalam keputusan reward, Astra Internasional mempunyai 2 filosofi dasar. Pertama adalah fair secarainternal, dimana setiap orang dengan dengan golongan yang sama dan prestasi yang sama maka pendapatannya juga sama. Keputusan inimencerminkan keadilan di dalam perusahaan itu sendiri. Sementara itu,filosofi lainnya adalah kompetitif secara eksternal, atau gaji yang bersaing dalam industri.

A.    Fungsi Etika Dalam Pengambilan Keputusan

        Etika merupakan ilmu yang mengatur perilaku manusia, supaya perilaku manusia di dalam sebuah koridor yang telah ditetapkan. Etika memberikan petunjuk bagaimana manusia bersikap dan berperilaku sehingga tidak saling merugikan satu dengan yang lainnya. Dalam tindakan manusia harus saling memperhatikan yang lainnya, karena tindakan manusia menimbulkan dampak pada kehidupan manusia yang lain. Setiap perilku yang dibuat dapat berdampak yang menguntungkan tetapi juga merugikan bahkan menghancurkan. Perilaku manusia ini berkaitan erat dengan keputusan yang diambil oleh individu tersebut. Sebelum mengambil keputusan tentunya seorang individu dihadapkan pada pilihan-pilihan alternatif yang harus dipertimbangkan. Etika dan moral menjadi petunjuk dan pijakan bagiaman individu tersebut mengeksekusi keputusannya

 

B.     Pengaruh Etika Dalam Pengambilan Keputusan

        Etika merupakan pertimbangan etis yang seharusnya suatu kriteria yang penting   dalam pengambilan keputusan organisasional. Ada lima kriteria dalam mengambil keputusan yang etis, yaitu:

1.      Utilitarian, Keputusan-keputusan yang diamabil semata-mata atas dasar hasil atau konsekuensi mereka. Tujuannya adalah memberikan kebaikanyang terbesar untuk jumlah yang terbesar. Pandangan ini cenderungmendominasi pengambilan keputusan bisnis, seperti efisiensi, prokduktifitas dan laba yang tinggi.

2.      Universalisme (duty), Ini menekankan pada baik buruk nya perilakutergantung pada niat (intention) dari keputusan atau perilaku. Paham ini dalah kebalikan (contrast) dari utilitarianisme. Berdasarkan prinsipImmanuel Kant (categorical imperative), paham ini mempunyai dua prinsip. Pertama, seseorang seharusnya memilih suatu perbuatan. Kedua,orang - orang lain harus diperlakukan sebagai akhir (tujuan), bukansekedar alat untuk mencapai tujuan.

3.      Penekanan pada hak, Kriteria ini memberikan kesempatan kepada individuuntuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasandankeistimewaan mendasr seperti dikemukakan dalam dokumen - dokumen(contoh Piagam Hak Asasi). Suatu tekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berarti menghormati dan melindungi hak dasar dari individu.

4.      Penekanan pada keadilan, Ini mensyaratkan individu untuk menegakan dan memperkuat aturan - aturan yang adil dan tidak berat sebelah sehinggaada pembagian manfaat dan biaya yang pantas. Keadilan distributif, perilaku didasarkan pada satu nilai: keadilan.

Relativisme (self-interest), Ini menekankan bahwa baik buruknya perilakumanusia didasarkan pada kepentingan atau kebutuhan pribadi (self-interestand needs). Dengan demikian, setiap individu akan mempunyai kriteriamoral yang berbeda dengan individu lainnya, atau akan terjadi perbedaan kriteria moral dari satu kultur ke kultur lainnya

A.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan.

Beberapa tahap yang menjadi factor keberhasilan sebuah keputusan, diantaranya:      

1)      Tahap perkembangan moral :

Tahap ini merupakan suatu tahap penilaian (assessment) dari kapasitas seseorang untuk menimbang nimbang apakah secara moral benar, makin tinggi perkembangan moral seorang berarti makin kurang ketergantungannya pada pengaruh- pengaruh luar sehingga ia akan makin cenderung berperilaku etis. Sebagai contoh, kebanyakan orang dewasa berada dalam tingkat menengah dari perkembangan  moral,  mereka  sangat  dipengaruhi  oleh  rekan  sekerja  dan  akan mengikuti  aturan  dan  prosedur  suatu  organisasi.  Individu-individu  yang  telah  maju ketahap-tahap yang lebih tinggi menaruh nilai yang bertambah pada hak-hak orang lain, tak peduli akan pendapat mayoritas, dan kemungkinan besar menantang praktik-praktik organisasi yang mereka yakini secara pribadi sebagai sesuatu hal yang keliru.

2)      Lingkungan Organisasi

Dalam lingkungan organisasional merujuk pada persepsi karyawan mengenai pengharapan (ekspetasi) organisasional. Apakah organisasi itu mendorong dan mendukung perilaku etis dengan meberi ganjaran atau menghalangi perilaku tak-etis dengan memberikan hukuman/sangsi. Kode etis yang tertulis, perilaku moral yang tinggi dari para seniornya, pengharapan yang realistis akan kinerja, penilaian kinerja sebagai dasar promosi bagi individu-individu, dan hukuman bagi individu-individu yang bertindak tak-etis merupakan suatu contoh nyata dari kondisi lingkungan organisasional sehingga kemungkinan  besar  dapat  menumbuh  kembangkan  pengambilan  keputusan  yang sangat etis.

3)      Tempat kedudukan kendali

Tempat  kedudukan  kendali  tidak   lepas  dengan  struktur   organisasi,   pada umumnya individu-individu yang memiliki moral kuat akan  jauh lebih kecil kemungkinannya  untuk  mengambil keputusan  yang  tak-etis,  namun  jika  mereka dikendalai oleh lingkungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang sedikit banyak  tidak  menyukai  pengambilan keputusan  etis,  ada  kemungkinan  individu- individu yang telah mempunyai moral yang kuatpun dapat tercemari oleh suatu lingkaungan organisasi sebagai tempat kedudukannya yang mengizinkan atau mendorong praktik-praktik pengambilan keputusan tak-etis.


Pengambilan Keputusan yang Etis Dalam Peran Managerial

            Keadaan sosial dapat mempermudah ataupun mempersulit kita untuk  bertindak sesuai dengan penilaian kita. Dalam dunia bisnis, terkadangakonteks organisasi mempersulit kita untuk bertindak secara etis bahkan bagi orang yang berniat paling baik sekalipun, atau mempersulit orang yang tidak  jujur untuk bertindak tidak etis. Tanggung jawab atas keadaan yang dapat mendorong perilaku etis dan menekan perilaku tidak etis jatuh kepadamanajemen bisnis dan tim eksekutif.

            Dalam situasi bisnis, para individu harus mempertimbangkan implikasietis dan pengambilan keputusan pribadi dan profesional (personal and prosfessionanl decision making). Beberapa dari peran yang kita emban bersifat sosial : teman, anak, pasangan, warga negara, tetangga. Beberapa bersifat institusional : manajer, pengajar, pengacara, akuntan, auditor, analiskeuangan, dan sejenisnya. Pengambilan keputusan dalam konteks inimenimbulkan pertanyaan yang lebih luas berkaitan dengan tanggung jawabsosial dan keadilan sosial.

            Dalam konteks bisnis, para individu mengisi peran sebagai karyawan,manajer, eksekutif senior, dan anggota dewan. Para manajer, eksekutif, dananggota dewan memiliki kemampuan untuk menciptakan dan membentuk konteks organisasi di mana semua karyawan mengmbil keputusan. Olehkarena itu, mereka memiliki sebuah tanggung jawab untuk meningkatkan pengaturan organisasi yang mendorong perilaku etis dan menekan perilakutidak etis

Komentar