Teori Etika Berdasarkan Perspektif Barat
Teori Etika Berdasarkan Perspektif Barat
Pengertian
Menurut Bertens,2014 dalam bukunya berpendapat bahwa Etika adalah refleksi kritis tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Singkatnya, etika adalah filsafat moral. Ada dua cabang utama etika yang terkait dengan etika bisnis dan profesional, yaitu etika konsekuensialis/teleologis & etika non-konsenkuensial/deontologis.
konsekuensialis/teleologis adalah teori yang menekankan baikburuknya tindakan berdasarkan konsekuensi tindakan. Suatu keputusan, kebijakan atau tindakan dianggap baik secara moral jika mengarah pada hasil yang baik, begitupun sebaliknya. (Brown,1987).
Teori ini meliputi Etika Utilitarian, Etika Hedonisme dan Egoisme.
Non-konsenkuensial/deontologis adalah penilaian tentang baik atau buruknya suatu keputusan, kebijakan, atau tindakan. Berdasarkan kemauan atau kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya.
Teori etika ini meliputi Etika Deontologis, Etika Keutamaan Kebajikan(virtue), dan Etika Keadilan sebagai Kewajaran. (Bertens,2014).
Macam-Macam Etika Konsekuensialis / Teologis
Etika Utilitarianisme
Etika Teologis memiliki ekspresi yang jelas dalam utilitarianisme. Istilah utilitarianisme berasal dari bahasa Latin Utilis, yang berarti "Berguna" (Bertens, 2014). Menurut teori utilitarian, suatu dianggap baik jika bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Utilitarianisme paling terlihat jelas dalam tulisan Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Dibukunya tersebut terdapat kutipan kalimat "Untuk bertindak sedemikian rupa sehingga tindakan tersebut menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar orang yang terpengaruh oleh tindakan itu" (Brooks & Dunn, 2011).
Etika Teologis cocok untuk pebisnis yang berorientasi pada hasil karena berfokus pada dampak keputusan. Kebijakan bisnis, pilihan, keputusan, atau tindakan yang dianggap baik atau buruk, diterima atau tidak, berguna atau tidak berguna, dinilai berdasarkan dampak atau konsekuensi dari suatu kebijakan, pilihan,keputusan atau tindakan (Brooks & Dunn, 2011).
Etika Hedonisme dan Egoisme
Hedonisme adalah teori etika yang dekat dengan egoisme, karena hedonisme juga berfokus pada kebahagiaan atau kesenangan pribadi. Sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan atau penderitaan, dengan sendirinya dinilai tidak baik. Menurut Rachels (2004) dua konsep yang berhubungan dengan egoisme. Pertama, Egoisme Psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self Servis). Kedua, Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest).
Dalam bisnis, tujuannya adalah mencari keuntungan. Keuntungan tentu akan lebih tinggi jika berhasil menurunkan biaya operasional dan meningkatkan penjualan. Jika untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, biaya produksi tidak disesuaikan, upah karyawan tidak dinaikkan, dan aspirasi yang lebih rendah ditekan dengan mengatasnamakan stabilitas perusahan, maka praktik semacam ini merupakan penerapan etis hedonisme karena hanya berfungsi untuk meningkatkan kebahagiaan pemilik dan bukan kepentingan secara keseluruhan.
Macam-Macam Etika Non-konsenkuensial
Etika Deontologis
Etika deontologis mengevaluasi etika suatu tindakan atau keputusan berdasarkan motivasi pembuat keputusan. Seperti disebutkan sebelumnya, kata deontologi berasal dari Yunani yaitu deon (tugas) dan logos (ilmu), (Bertens, 2014). Menurut prinsip deontologi, suatu tindakan atau keputusan secara etis dampak negatif yang diperboleh, tetapi atas dasar motivasi pembuat keputusan atau tindakan yang akan dilakukan yang dipahami sebagai kewajibannya. Jadi, dasar dari perbuatan baik atau buruk adalah kewajiban.
Etika Keutamaan Kebajikan
Etika kebajikan adalah sebuah kelas teori etika normatif yang memperlakukan konsep kebajikan moral sebagai pusat etika. Etika kebajikan mengambil inisiatif dari filsuf Yunani Aristoteles (384-322) dalam buku Nicomachean Ethics, Aristoteles menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan (odemonia). Suatu kegiatan pikiran yang merasakan kegembiraan karena mencapai tujuan hidup yang mulia dengan cara hidup secara rasional, bertindak secara sukarela (Freely).
Etika Keadilan sebagai Kewajaran
Etika ini menekankan kepentingan dan beban berdasarkan alasan rasional. Filsuf Inggris David Hume (1711-1776) mengatakan bahwa keadilan adalah penting karena orang tidak selalu membantu dan sumber daya langka. Hume yakin bahwa masyarakat terbentuk melalui kepentingan pribadi karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan kerjasama untuk bertahan hidup. Namun, karena sumber daya yang terbatas untuk memberi manfaat kepada orang lain diperlukan mekanisme pembagian manfaat dan beban sosial yang adil. Rawls memperkenalkan dua prinsip keadilan yang diyakini dalam ketidaktahuan dan tidak peduli tentang status, kelas, atau kepemilikan potensial apapun.
John Rawls (1921-2002) mengembangkan konsep keadilan sebagai keadilan atau adil. Rawls mengatakan dalam A Theory of Justice bahwa setiap orang tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan usaha sendiri, oleh karena itu butuh kerjasama dalam masyarakat untuk saling menguntungkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menyeimbangkan konflik kepentingan; saldo lebih besar dari kemaslahatan atau kemaslahatan yang yang harus mereka tanggung. Prinsip-prinsip yang digunakan untuk menentukan distribusi yang adil adalah keadilan sebagai persamaan berarti setuju dalam segala keadaan akan dianggap adil oleh semua.

Komentar
Posting Komentar